top of page

(CERPEN) "Dicari atau Mencari"

  • May 5, 2016
  • 1 min read

Bryan mempertanyakan kepulangan dan arti daya dalam hidup.

____________________________________________________________________________________

DICARI ATAU MENCARI


Dera melintang di antara sela-sela gang buntu pikiranku. Suara parau tak luput menyimpang pelan-pelan dari sukmaku.


"Kapan kau pulang?"


Aku membenci pertanyaan itu. Retorik. Siapa yang tahu kapan akan pulang? Toh, ke mana aku pergi juga tak ada yang tahu. Termasuk aku. Semua itu terkunci rapat oleh gembok yang kuncinya mungkin telah dilebur oleh tuannya. Seperti biasa buku itu hanyalah buku. Tergeletak di mana saja. Hanya tak dapat dibuka sembarangan. Wong kuncinya saja tak tahu kemana.


"Pulanglah, Nak, Ayah dan Ibumu sudah lelah kedinginan."


Ya, barang tentu kalian kedinginan. Antara kalian berdua tersemat batu es terjal yang diam-diam mulai memeluk kalian. Kalian di sini menganggap aku akan ada untuk menghangatkannya, tetapi kalian terlalu sibuk dengan angan kalian. Tak pernah mencoba bertanya apa aku sedang lara? Cuma anak yang wajib bertanya pada ibu bapak nya.


"Aku masih bercumbu, Bu. Dengan perang pasir dan merdu lirih, sesekali tersedak dengan bahagia meski gemintang terkadang menyalamiku lalu hilang malu-malu!"


"Oh begitu, baiklah. Ingat, Nak, petualangan jalang Mu itu jangan sampai menyeburkanmu ke liang laknat atau dusta."


"Hmmph... Dusta dan laknat sudah lumer di antara tak terasa ibu."


"Jika begitu, kenapa kau masih hidup?"


"Jika aku tahu, akan kuminta jalan ceritaku diubah di buku itu"


Lalu aku mencari ruang kosong yang dapat menahan gertakan sopanku untuk terbang.


"Manusialah yang memanusiakan mereka masing-masing. Iblis termanusiakan oleh mereka, begitu juga malaikat. Jika memang seperti itu, apa sebenarnya dayaku dalam hidupku? Angin dan tanah ini bersaksi, aku hanyalah anak dari asa."


 
 
 

Comments


what do you think of this post?

bottom of page