top of page

Marwah Bumi Melayu @ GIK

  • May 5, 2016
  • 2 min read

Empat Episode dalam pagelaran Marwah Bumi Melayu ini ingin menyampaikan kisah melalui gerak, musik, pantun dan dendang. Bertolak dari kehidupan dalam rekatan budaya Melayu. Rasa suka dan duka, riang dan sendu, bahagia dan haru bagai bergelut dengan waktu yang panjang. Episode pertama dipenuhi dengan dentang rebana atau kompang menggetarkan hati dan jiwa. Alunan jalinan kata-kata mengaliri darah penuh makna. Kita menjalani kehidupan dengan rentak dan langkah di atas bumi berkerudung budaya Melayu. Marwah menyelimuti diri menyampaikan arti bagi kehidupan. Takkan ada kata menyerah untuk yang hakiki dan penuh arti. Takkan ada putus asa bila doa mengiringi langkah dan usaha dengan pasti. Episode kedua menjabarkan bagaimana menari bukan hanya sekedar menggerakkan tubuh. Dia lahir karena alam lingkungan dan marwah diri. Lihatlah ombak bergulung, mendayung perahu meniti gelombang, memukat menjaring ikan, berenang mengikuti arus, tak lain usaha dalam kehidupan. Semua memberi cerminan akan ketidakmalasan. Hidup bersama saling bekerjasama, bergotong royong dengan ramah, gembira, saling menjaga serta menghargai sesama. Episode Ketiga menceritakan kehidupan remaja penuh riang ria. Dalam saling pandang tumbulah rasa cinta. Anak lelaki datang menggoda anak perempuan yang malu tersipu–sipu. Saling bertatap mata, tersenyum manja bagai saling mencuri hati. Bercanda bagai ingin menyapa si jantung hati. Pantun anak muda pun terucap balas membalas sampai bertemu pasangan yang disuka. Namun dalam bersenda gurau dan memadu kasih, taklah lupa pada diri. Marwah Melayu tetap terjaga, setitik pun takkan teringkari. Episode terakhir adalah sebuah kesimpulan, takkan rezeki tak dapat diraih, jodoh tak dapat ditolak. Kalau hati sudah menyatu, takkan dapat dipisah lagi. Ayah dan Ibupun telah setuju, pelaminanpun terbentang, kompangpun dipalu. Segala adat dipenuhi, aturan agama pun dipatuhi, duduk berdamping di kanan kiri, semua sanak saudara kerabat dan handai tolanpun bersenang hati. Perkawinan adalah muara cinta yang harus dipelihara. Marwah diripun harus dipatri dengan suci. Menggapai kehidupan bahagia dan dunia akhiratkan abadi. Acara yang menggabungkan tari dan musik ini melibatkan banyak seniman panggung, seperti Tom Ibnur, Bang Ucuy, Herman dan Butong. Dengan adanya pertunjukan ini, masyarakat dikenalkan kembali kepada lagu-lagu Melayu, Tari Melayu dan Budaya Melayu harus dilestarikan dan dikembangkan. Marwah Bumi Melayu oleh Sanggar Putih Melati

dapat disaksikan di Galeri Indonesia Kaya

pada tanggal 15 Mei 2016 pukul 15:00.

 
 
 

Comments


what do you think of this post?

bottom of page