top of page

STD: Pementasan yang Berbuah Manis

  • Apr 28, 2016
  • 2 min read

Kontributor foto: Akbar P. Triyuwono, Indraswari Pangestu, Dokumentasi Teater Pagupon

Sebuah pementasan teater memang memiliki ceritanya masing-masing; dalam proses produksinya hingga pementasan berhasil diselenggarakan. Ada senang, suka, duka, hingga candu dalam pementasan yang dirasakan pemain maupun anggota tim produksi lainnya pasca pementasan. Jumat lalu (29/4), Teater Pagupon sekali lagi membuktikan tajinya dengan berhasil membawakan lakon Sumur Tanpa Dasar di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Pementasan produksi ke-92 Teater Pagupon yang disutradarai M.Yoesoev ini dimulai pukul 19.30 WIB dan disaksikan oleh kurang lebih 250 penonton yang memenuhi kursi GBB TIM.


Lakon yang dibawakan Pagupon kali adalah salah satu mahakarya Arifin C. Noer, Sumur Tanpa Dasar, mengisahkan sebuah perjalanan seorang tokoh yang bernama Jumena Martawangsa, seorang lelaki kaya raya yang menghadapi masalah pelik kehidupannya dan mengembara di alam pikirannya. Pikiran-pikiran negatif selalu membuatnya cemas akan segala hal, termasuk kepada istrinya sendiri, Euis, yang dipikirnya "serong" kepada Marjuki. Ia berpikit bahwa motif istri "serong" adalah hanya untuk mendapatkan warisan hartanya. Hal itu terus terjadi sampai pemburu berusaha menenangkan pikirannya, juga menjemputnya pulang untuk tidak kembali selamanya. Sumur Tanpa Dasar versi Pagupon ini mampu menyuguhkan pementasan yang sarat akan makna kehidupan. Hampir setiap tokoh memiliki perannya masing-masing untuk menghadirkan makna tersendiri di dalam dialog. Jumena, tokoh utama dalam lakon ini seakan menepuk pundak para penonton yang hadir ketika mempertanyakan tentang arti bahagia. Sebuah dilema yang dirasakan sebagian besar manusia ketika memiliki segalanya namun tidak merasakan bahagia.


Pementasan ini dapat dikatakan sukses, dilihat dari perpaduan totalitas pemain, pemusik, dan penyanyi yang mampu menyajikan sebuah paket pementasan yang komplit dan pas, tidak kurang dan tidak lebih. Penonton pun dapat merasakan atmosfer yang dihasilkan dari perpaduan apik tersebut. Semua pemain berhasil memerankan tokohnya masing-masing, terlebih Rizky Septian, mahasiwa Prodi Indonesia FIB UI angkatan 2012 yang pantas mendapatkan kredit tertinggi karena mampu menghadirkan sosok yang mewakili Jumena Martawangsa sepenuhnya.


Keberhasilan pementasan ini bukan tanpa proses berarti. Beberapa kendala harus dihadapi, hingga dibutuhkan waktu sekitar tujuh bulan lamanya untuk dapat terselenggaranya pementasan ini. “Alhamdulillah, mereka (tim produksi) mau membantu saya. Kendalanya selalu ada di mana-mana. Mulai dari kekurangan pemain, kekurangan kru, dan lain-lain. Kurang lebih tujuh bulan produksi ini berjalan, kendala-kendala tersebut dapat diatasi,” ucap Amanda Dwininta selaku Pemimpin Produksi ketika diwawancara setelah pementasan selesai. Proses panjang dan kendala yang dilalui akhirnya menghadirkan sebuah pementasan yang berbuah manis, khususnya untuk tim produksi maupun penonton yang puas menikmati pementasan.


 
 
 

Comments


what do you think of this post?

bottom of page